Lo pasti udah liat thread LinkedIn yang lagi panas ini. Seorang konsultan di-bully habis-habisan karena metode kerjanya dianggap aneh. Bahkan sempat dituding mau merugikan client.
Tapi yang bikin orang pada bingung? Di akhir proyek, metode gila-gilaan itu justru yang nyelamatin proyek fiber optik senilai Rp 500 M dari kegagalan total.
Gue langsung kepo. Gimana cara kerjanya? Setelah gue telusurin—dan ngobrol sama beberapa orang yang terlibat—ternyata ini bukan soal metode aneh. Tapi soal paham psikologi tim proyek.
1. “Biarkan Masalah Kecil Jadi Besar Dulu”
Biasanya kita diajarin: selesaikan masalah sejak dini. Prevention is better than cure. Tapi konsultan ini malah sebaliknya. Dia sengaja biarin beberapa issue teknis kecil berkembang jadi masalah yang lebih serius.
Awalnya tim proyek pada ribut. “Ini konsultan gila ya? Biarin aja kabel di duct A sedikit kemasukan air.”
Tapi ternyata, ini strategi. Dengan biarin masalah kecil itu jadi visible ke semua level management, dia bikin sense of urgency yang natural. Bukan yang dipaksain.
Studi Kasus: Di proyek FO Jawa-Bali, ada masalah minor di segmentasi kabel. Tim mau langsung perbaiki. Tapi konsultan larang. “Tunggu sampai ada 3 complaint dari user.” Begitu complaint datang, semua department langsung kooperatif. Budget perbaikan yang sebelumnya ditolak, sekarang langsung disetujui.
Data Point: 85% masalah teknis di proyek FO sebenarnya bisa dicegah. Tapi 70% di antaranya nggak dapat prioritas dari management sampai jadi kritis.
Common Mistake: Terlalu cepat nge-solve masalah kecil, sehingga management nggak pernah liat dampak besarnya. Hasilnya? Budget untuk prevention selalu dipotong.
2. “Paksa Tim Lapangan Buat Bikin Kesalahan”
Ini yang paling kontroversial. Konsultan ini sengaja kasih instruksi yang sedikit “salah” ke tim teknis. Misal: sengaja kasih toleransi splicing yang agak longgar.
Tim lapangan pada protes. “Ini nggak sesuai standard!” Tapi konsultan maksa. Hasilnya? Quality test gagal. Tapi dari sini, tim jadi belajar sendiri kenapa standard itu penting.
Tips Practical: Lo bisa coba metode “controlled failure” ini. Kasih tim proyek kesempatan buat bikin kesalahan kecil yang konsekuensinya terkontrol. Biarin mereka ngerasain sendiri dampaknya. Percaya deh, learning-nya bakal lebih nempel daripada training 100 jam.
Tapi hati-hati. Harus yang memang nggak bikin risiko besar. Cuma cukup buat bikin mereka ngerasa “oh, ini akibatnya kalau kita nggak ikuti prosedur”.
3. “Undur Deadline Padahal Bisa Selesai Lebih Cepat”
Biasanya kita berusaha selesai lebih cepat dari jadwal. Tapi konsultan ini malah sengaja minta perpanjang waktu 2 minggu—padahal secara teknis bisa selesai tepat waktu.
Awalnya client marah. Tapi konsultan bilang: “Saya mau tim punya waktu untuk testing yang comprehensive, bukan cuma nyelesain target.”
Dan ternyata? Di minggu tambahan itu, tim nemuin 3 critical defect yang bisa bikin proyek gagal total setelah live.
Studi Kasus: Di tahap final testing, konsultan sengaja munda live schedule. Dia minta tim lakukan end-to-end test sekali lagi. Hasilnya? Mereka nemuin compatibility issue antara equipment baru dan legacy system—sesuatu yang nggak ke-test di tahap sebelumnya.
Common Mistake: Terlalu fokus nyelesain proyek sesuai jadwal, sampai lupa bahwa quality di akhir yang paling menentukan sukses nggaknya proyek.
Kesimpulan: Terkadang Mundur Dulu Buat Lompat Lebih Jauh
Jadi, masih mikir metode konsultan ini merugikan?
Yang sebenernya terjadi: dia paham bahwa dalam proyek besar, masalah terbesarnya bukan teknis. Tapi human psychology. Bagaimana bikin semua stakeholder punya sense of urgency yang sama. Bagaimana bikin tim internal belajar dari pengalaman, bukan dari teori.
Metode konsultan yang keliatan kontroversial ini ternyata justru nyelamatin proyek Rp 500 M karena:
- Bikin masalah jadi visible ke level decision maker
- Bikin tim internal belajar secara experiential
- Kasih ruang untuk quality daripada sekadar mengejar deadline
Pelajaran buat kita? Nggak semua yang keliatan “benar” secara konvensional itu selalu tepat untuk setiap situasi. Terkadang kita perlu approach yang keliatan “salah” dulu buat dapetin hasil yang benar.
Masih mau ikutin textbook theory terus? Atau berani coba pendekatan yang lebih realistis dengan kondisi lapangan?

